Implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, Dosen Unsri Edukasi Guru Sejarah

LUBUKLINGGAU, Panjinews.com – Wujud implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi terdiri dari 3 poin, yaitu Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengembangan serta Pengabdian Kepada Masyarakat, ketiga poin inilah yang menjadi dasar untuk Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Sriwijaya (Unsri) melaksanakan poin ketiganya yakni, pengabdian kepada masyarakat dengan memberikan sosialisasi ke guru-guru mata pelajaran sejarah Kota Lubuklinggau yang bertempat di SMA Muhamadiyah Lubuklinggau, Jumat (9/6).

Sosialisasi tersebut memberikan materi bagaimana cara membuat buku ajar bagi guru MGMP se Kota Lubuklinggau.
“Kegiatan ini sudah jadi agenda tiap tahun, tema nya berubah ubah, dan kita keliling se-Sumatera Selatan,”kata Dr Syarifudin, M.Pd selaku koordinator Program Studi Pendidikan Sejarah, saat dibincangi wartawan.

Sosialisasi ke Lubuklinggau ini, menjadi yang kedua bagi Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Sriwijaya (Unsri) . Biasanya mereka melaksanakan di Kota Palembang dan Ogan Ilir, karena paling dekat dengan kampus.

“Tetapi saat ini , kita coba keluar dulu, kebetulan ada alumni ibu Siska selaku ketua MGMP Pendidikan Sejarah SMA/SMK Kota Lubuklinggau, jadi dapat link dan kami laksanakan disini, ini kedua kalinya, dulu kita pernah sosialisasi ke Bangka,”jelasnya.

Dari kegiatan ini diharapkan para guru dapat mengimplementasikan dan membuat buka ajar dan LKS secara mandiri, mencurahkan pikiran untuk akademis, dan mencetak buku ajar dengan berbagai penerbit.

Dikatakan Syarifudin, ada permasalahan cukup simpel, mengapa guru jarang membuat hasil karya tulis, karena guru tidak memiliki waktu yang cukup.

“Pulang mengajar guru capek, sedangkan kewajiban guru mengajar 24 jam, sementara guru harus berkreasi , punya inovasi, jadi kapan lagi guru bisa buat media, modul, yang mana ini salah satu tuntutan guru d imasa depan di abad 21, faktor lain, kemampuan yang jarang diasah, guru hanya mengajar tapi tidak pernah didiklatkan,”jelasnya.

Baca Juga:  Vote Guru Honorer Lubuklinggau Terfavoritmu

Masih kata Syarifudin, proses membuat sebuah media, katakanlah ensiklopedia, berita , buku ajar sangat rumit, mulai dari analisis kebutuhan, analisis proses, dan sebagainya.

“Tahapan ini jika kita ingin mendapatkan hasil yang baik, tapi kalau kita bikin yang standar-standar saja ya tidak ada yang kita hasilkan , karena kita jauh dari pusat ibukota provinsi, kita harus terus mengikuti perkembangan zaman, karena sekarang anak anak lebih cerdas dari pada gurunya,”terangnya. NSR.

Berikan nilai berita ini?

Berita Terkait ⚡️

error: DILARANG COPAS !!!