Pendeta: GKY Itu Gereja Orang Tionghoa

LUBUKLINGGAU, Panjinews.com – Santer pemberitaan dalam beberapa pekan terakhir, terkait pemberitaan adanya dugaan aktivitas gereja terselubung di dalam kompleks sekolah kasih yobel yang beralamat di Jl. A Yani, kecamatan Lubuklinggau utara 2.

Pendeta sekaligus salah satu pengelola Gereja Kristus Yesus (GKY), Edi Gunawan saat dibincangi wartawan via telepon seluler membenarkan kalau saat ini pihak pengelola Gky sedang mengajukan izin untuk pendirian gereja di lokasi gedung serbaguna yang bercokol di dalam kompleks sekolah kasih yobel.

“Gereja kami gereja tionghoa, mayoritas keturunan tionghoa, jadi kita kadang pakai bahasa tionghoa kadang pakai bahasa indonesia. Tapi karena banyak yang sudah tidak bisa berbahasa tionghoa jadi kita sudah memakai bahasa indonesia sekarang,” katanya.

Dijelaskan Edi, gedung itu tidak dipakai sudah hampir 10 tahun bahkan sudah hampir hancur. “Kami tidak kami pakai karena kita patuh dengan hukum. Tapi pemerintah memberikan kesempatan pada kita sesuai dengan undang-undang yakni izin untuk menjadi tempat peribadatan (gereja). Tapi sampai sekarang belum dapat izinya,” terangnya.

Lebih lanjut, diterangkanya pihaknya sebenarnya sudah banyak mengalami kerugian, karena gedung tersebut sudah hampir hancur, kalaupun memang diapakai untuk sekolah hanya sebatas dipakai tempat makan dan pembelajaran agama saja. Gedung itu dibangun 2011, hingga sekarang tidak dipakai.

“Kita ini sudah 21 tahun menunggu aturan yang resmi agar kita bisa beribadah dengan tenang, jadi tidak mungkin diakhir-akhir ini kita melawan aturan. Harapan kita cuma hanya beribadah dengan tenang dan dilindungi payung hukum dan perundang-undangan,” harapnya.

Selain itu, ketika ditanya tentang persoalan surat pernyataan pemilik gedung, atas nama Maria yang ditanda tangani diatas materai tentang peruntukan gedung tersebut sebagai gedung serbaguna. Namun malah berubah fungsi menjadi gereja. Lantas dijawab Edi Gunawan yakni gedung tersebut sudah di hibahkan. Jadi bukan milik ibu Maria lagi.

“kami kan sudah dipanggil oleh masyarakat, lurah, camat, dari kodim dan polres kita dipertemukan, pada intinya peruntukannya yakni gedung serbaguna, sesuai pernyataanya. Namun pada 3 tahun lalu gedung tersebut sudah dihibahkan pada pihak pengelola gereja, dan sekarang pemiliknya bukan ibu Maria lagi,” tukasnya

Baca Juga:  "Optimis" RP3KP Dapat Hantarkan Lubuklinggau Menjadi Kota Metropolis Madani

Pada pemberitaan Panjinews.com sebelumnya, Ketua Rt. 07, kelurahan Jogoboyo, Ali Tobit saat dikonfirmasi wartawan membenarkan bahwa akan adanya pendirian gereja di dalam kompleks sekolah kasih yobel. Namun meski mendapatkan sebagian dukungan dari warga, untuk melengkapi berkas pengajuan izin, tak hayal ada yang mendukung, ternyata banyak juga yang melakukan penolakan adanya pendirian gereja di wilayah tersebut, sehingga menghambat proses terbitnya izin pendirian GKY tersebut.

“Bisa dikatakan 101 persen di Rt.07 jogoboyo ini memeluk agama muslim. Sesuai uud itu tidak dibenarkan membangun gereja di perkampungan muslim. Sedikitnya ada 40 warga yang menolak dan untuk surat penolakan sudah kita tembuskan ke kemenag, lurah dan camat,” tegasnya

Masih kata Ali Tobit, dibenarkanya kalau sudah sering terjadi aktivitas peribadatan di lokasi yang akan menjadi gereja tersebut. Karena secara infrastruktur sebenarnya sudah siap tinggal mereka mengurus izinya lagi. Namun terkendala penolakan warga dan dianggap tidak layak dibangun gereja di tengah kampung muslim.

“Sudah ada itu, dia itu seperti kegiatan nyanyi-nyanyi pada sabtu dan minggu, namun tak berlangsung lama. sampai ada warga yang bertanya ada apa itu pak. Karena kalau gereja emang seperti itu aktivitasnya, kalau gedung serbaguna tidak mungkin seperti itu, menurut laporan warga saya. Makanya kita tolak, karena kita merasa resah,” tegasnya. NSR

Berikan nilai berita ini?

Berita Terkait ⚡️

error: DILARANG COPAS !!!